Halaman

Senin, 12 Juli 2010

bunga anggrek: Aku bertemu Nh.Dini

bunga anggrek: Aku bertemu Nh.Dini


Aku bertemu Nh.Dini

Posted: 11 Jul 2010 10:04 PM PDT

Nh.Dini,nama ini akrab di telinga para siswa SMA,terutama yang mengambil jurusan budaya dan bahasa. Karya karya Nh.Dini menjadi bacaan wajib di sekolah, di antaranya yang sangat terkenal berjudul Pada Sebuah Kapal. Apa kabar beliau saat ini?

Saya adalah penggemar fanatik buku buku ibu Dini. Ada ‘chemistry’ antara saya dan kisah yang beliau tulis. Semua terbitannya ada dalam koleksi saya, dari Seri Cerita Kenangan, cerita lepasnya, sampai Kumpulan Cerpen nya. ‘Chemistry’ ini yang mendorong saya ingin mengenal lebih dekat penulisnya, ingin melihat seperti apa orangnya. Ada sih fotonya di cover belakang buku, tapi itu tidak cukup menjawab keingintahuan saya. Maka suatu ketika, saya telusuri Jalan Sekayu,menuju rumah beliau. Ada rasa yang aneh bahwa tempat tempat yang diceritakan dalam Seri Cerita Kenangan benar benar bisa saya datangi. Sayang, ketika sampai di sana, saya hanya bertemu dengan beberapa orang kemenakan beliau, mengatakan bahwa saat ini ibu Dini bertempat tinggal di Panti Wredha Langen Werdasih,Ungaran. Beruntung sekali saya juga diberi nomor handphone ibu Dini untuk meminta ijiin dulu bila ingin ke sana. Saya pun menelpon nomor tersebut, dan ketika panggilan dijawab,jantung rasanya berhenti berdetak,rasanya tidak percaya bahwa benar benar saya mendengar suara Nh.Dini di seberang sana. Percakapan selama lebih kurang 3 menit itu cukup memberi kesan bahwa ibu Dini saat ini walaupun sudah menginjak usia 70 tahun lebih, tetapi masih banyak memiliki aktifitas,di antaranya memenuhi undangan berbicara di seminar seminar, kampus kampus  termasuk melayani tutorial murid murid SMA yang datang ke rumah beliau. Saat itu juga saya menangkap bahwa beliau mengkhawatirkan kondisi kesehatannya dan keuangannya ( beberapa waktu sebelumnya saya membaca di harian Kompas mengenai Nh.Dini menjual lukisan lukisannya untuk membiayai pengobatannya ). Ketika saya minta ijin untuk bertemu,bu Dini keberatan bila kepentingannya hanya ‘jumpa fans’. Beliau lebih menghargai waktunya untuk kegiatan kegiatan pendidikan sekaligus juga menghasilkan uang dikarenakan alasan di atas. Kecewa sih saya, tetapi sangat bisa memaklumi.

Akhir pekan kemarin,saya berkesempatan mengikuti retreat yang mengambil lokasi di Wisma Langen Werdasih,Ungaran. Saya bawaannya sudah sooo excited, mengingat di sanalah juga ibu Dini menetap sekarang. Jujur sempat terpikir oleh saya  untuk membawa buah tangan,tetapi saya ingat kembali percakapan saya dengan beliau via telepon yang menolak untuk bertemu, saya jadi tidak ‘pe-de’. Heheheh…

Jadilah, pagi sebelum retreat di mulai, saya ‘mengintip’ area rumah beliau. Yang saya istilahkan rumah di sini adalah semacam paviliun yang masih dalam lokasi Panti, paling ujung dan ditandai papan ‘dilarang masuk’ untuk memberikan batas tegas bagi para pengunjung. Rumah mungilnya penuh dikelilingi aneka tanaman hias, pohon pohon peneduh dan jambangan jambangan ikan. Sangat asri!

Pagi itu terlihat ibu Dini tengah asyik merawat tanamannya. Memakai baju berkebun yang longgar dan santai, dengan topi dan sepatu sandal, beliau menggunting sana,memindah anggrek ke sini,menyemprot bunga, asyik sekali. Harap harap cemas saya menyapa ’selamat pagi bu Dini..’ dan…jawaban ramah beliau memupus semua rasa cemas saya tadi. Wah, ini toh Nh.Dini dari dekat. Cukup gemuk, kulit putih bersih, cantik..! Pikiran saya sontak melayang ke ‘Sang Kapten kapal’ yang jatuh cinta berat pada Dini dalam bukunya. Jelas saja, karena memang Nh.Dini cantik, di usia senjanya jelas terlihat kecantikan masa mudanya. Suaranya masih jernih, dan gaya bicaranya cukup cepat. Sambil tetap mengerjakan keasyikannya, beliau menceritakan sedikit kondisinya saat ini. Penyakit vertigo menyebabkannya sulit berkonsentrasi lama di depan komputer untuk melanjutkan bukunya. Belum lagi pembengkakan syaraf mata kiri dan 1 lagi penyakit yang diderita (maaf saya lupa apa ) cukup merepotkan masa tua nya. Keharusan tusuk jarum di daerah pecinan semarang yang sudah dilakoni puluhan tahun,memakan biaya yang tidak sedikit. Ketika saya tanyakan mengenai royalti yang semestinya diterima, beliau menjawab bahwa royalti datang per 6 bulan sekali dan itu tidak begitu banyak. Sempat juga menyinggung mengenai 1 penerbit yang tidak bersedia memperpanjang kontraknya lagi, sehingga semakin susah keadaannya. Di pikiran saya melintas pertanyaan ‘bagaimana dengan anak anak beliau, Padang dan Lintang, apakah tidak menyokong kehidupan ibunya?’. Tapi saya tidak sampai hati menanyakan. Yang beliau katakan bahwa Lintang sudah mendekati pensiun dan saat ini berada di Canada. Obrolan kami tidak berlangsung lama, hanya kira kira 10 menit. Saya tanggap sasmita bahwa bu Dini tidak terlalu suka ‘diganggu’ dengan chit chat,apalagi anak anak kami sudah mulai menyusul dengan berisik. Saya pun mohon pamit.

Akhirnya, saya kesampaian juga bertemu Nh.Dini. Selanjutnya, saya berusaha menyebarluaskan info ini terutama bagi penggemar Nh.Dini, dan pihak pihak terkait untuk ‘peduli’ pada nasib sastrawan kita ini. Saya pribadi belum dapat berbuat banyak, selain hanya mengusulkan ke beberapa acara talkshow televisi untuk mengekspose beliau. Bagaimanapun, karya karya seorang Nh.Dini telah mewarnai kehidupan sastra bangsa ini, dan pun telah diakui oleh bangsa bangsa lain dengan banyaknya penghargaan yang  beliau terima. Nh,Dini..I love you full..!


Sekilas “kultur jaringan” <b>anggrek</b> :renady-saputra

Posted: 09 Jul 2010 06:51 PM PDT

http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:gNtNFZd7B3xcyM::&t=1&usg=__ATMnhaznvVWb3dWBwKxiFV5GPiw=

http://spmabogor.net/website/wp-content/uploads/2008/04/anggrek_efifit.jpg

Perkembangan kultur jaringan di Indonesia terasa sangat lambat, bahkan hampir dikatakan jalan di tempat jika dibandingkan dengan negara-negara lainnya, tidaklah heran jika impor bibit anggrek dalam bentuk 'flask' sempat membanjiri nursery-nursery anggrek di negara kita. Selain kesenjangan teknologi di lini akademisi, lembaga penelitian, publik dan pecinta anggrek, salah satu penyebab teknologi ini menjadi sangat lambat perkembangannya adalah karena adanya persepsi bahwa diperlukan investasi yang 'sangat mahal' untuk membangun sebuah lab kultur jaringan, dan hanya cocok atau 'feasible' untuk perusahaan.

Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang luar biasa, salah satunya adalah anggrek, diperkirakan sekitar 5000 jenis anggrek spesies tersebar di hutan wilayah Indonesia. Potensi ini sangat berharga bagi pengembang dan pecinta anggrek di Indonesia, khususnya potensi genetis untuk menghasilkan anggrek silangan yang memiliki nilai komersial tinggi. Potensi tersebut akan menjadi tidak berarti manakala penebangan hutan dan eksploitasi besar-besaran terjadi hutan kita, belum lagi pencurian terang-terangan ataupun "terselubung" dengan dalih kerjasama dan sumbangan penelitian baik oleh masyarakat kita maupun orang asing.

Sementara itu hanya sebagian kecil pihak yang mampu melakukan pengembangan dan pemanfaatan anggrek spesies, khususnya yang berkaitan dengan teknologi kultur jaringan. Tidak dipungkiri bahwa metode terbaik hingga saat ini dalam pelestarian dan perbanyakan anggrek adalah dengan kultur jaringan, karena melalui kuljar banyak hal yang bisa dilakukan dibandingkan dengan metode konvensional.

Secara prinsip, lab kultur jaringan dapat disederhanakan dengan melakukan modifikasi peralatan dan bahan yang digunakan, sehingga sangat dimungkinkan kultur jaringan seperti 'home industri'. Hal ini dapat dilihat pada kelompok petani 'pengkultur biji anggrek' di Malang yang telah sedemikian banyak.

Beberapa gambaran dan potensi yang bisa dimunculkan dalam kultur jaringan diantaranya adalah :

  • Kultur meristem, dapat menghasilkan anggrek yang bebas virus,sehingga sangat tepat digunakan pada tanaman anggrek spesies langka yang telah terinfeksi oleh hama penyakit, termasuk virus.
  • Kultur anther, bisa menghasilkan anggrek dengan genetik haploid (1n), sehingga bentuknya lebih kecil jika dibandingkan dengan anggrek diploid (2n). Dengan demikian sangat dimungkinkan untuk menghasilkan tanaman anggrek mini, selain itu dengan kultur anther berpeluang memunculkan sifat resesif unggul yang pada kondisi normal tidak akan muncul karena tertutup oleh yang dominan
  • Dengan tekhnik poliploid dimungkinkan untuk mendapatkan tanaman anggrek 'giant' atau besar. Tekhnik ini salah satunya dengan memberikan induksi bahan kimia yang bersifat menghambat (cholchicine)
  • Kloning, tekhnik ini memungkinkan untuk dihasilkan anggrek dengan jumlah banyak dan seragam, khususnya untuk jenis anggrek bunga potong. Sebagian penganggrek telah mampu melakukan tekhnik ini.
  • Mutasi, secara alami mutasi sangat sulit terjadi. Beberapa literatur peluangnya 1 : 100 000 000. Dengan memberikan induksi tertentu melalui kultur jaringan hal tersebut lebih mudah untuk diatur. Tanaman yang mengalami mutasi permanen biasanya memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi
  • Bank plasma, dengan meminimalkan pertumbuhan secara 'in-vitro' kita bisa mengoleksi tanaman anggrek langka tanpa harus memiliki lahan yang luas dan perawatan intensif. Baik untuk spesies langka Indonesia maupun dari luar negeri untuk menjaga keaslian genetis yang sangat penting dalam proses pemuliaan anggrek.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar