Minggu, 10 Oktober 2010

bunga anggrek: Persamaan Diantara Kita : 10!

bunga anggrek: Persamaan Diantara Kita : 10!


Persamaan Diantara Kita : 10!

Posted: 10 Oct 2010 06:49 AM PDT

Hei, kamu! Ya, Kamu.. Jangan menoleh ke orang lain. Yang aku maksud itu kamu, yang terlahir tepat di tanggal yang angkanya sempurna. Sepuluh. Tahu kan, 10!

Eh, tidak hanya kamu! Tenang saja. Aku juga, tercatat memakai angka itu, 10!

Hanya saja, kita tak lahir persis di bulan 10. Kita ada di masing-masing bulan yang lain dengan tahun yang terpaut 12 tahun. Haha..shio kita sama. Shio? Ah, itu yang pernah ditanyakan seseorang padaku padahal kami baru kenal. Aneh? Hm…itu masalah lain. Aku tak mau membahas shio.

Ah, tak perlu kita ungkap, bulan apa saja milik kita. Cukup kamu dan aku yang tahu. Ya kan? Sssttt..jangan izinkan orang lain tahu ya! Cukup kita saja.

Perfeksionis? Hm…bisa jadi. Sepuluh itu angka sempurna. Aku perfeksionis? Hm..kurasa tidak. Kamu perfeksionis? Aku rasa iya! Haha..

Hei, kamu! Percaya ramalan? Ah, boleh iya boleh juga tidak percaya. Itu pilihanmu.

Nah, katanya lagi nih, yang lahir di tanggal 10 bulan *** karakternya begini : Berpikiran praktis dan bijaksana, agak ambisius, lebih suka hidup bebas daripada dikekang, pandai mencari uang secara baik-baik dan dapat berhemat tanpa berlaku kikir”

Kalau yang satu lagi, lahir di tanggal 10 bulan *** katanya begini : “Cerdas, berani, firasatnya luar biasa tajam, manis dan bijaksana. Ia akan berhasil baik dalam pekerjaan yang bersifat penelitian seksama”

Nah, kamu tahu bukan, kamu ada di ramalan yang mana? Aha! Ya, benar! Itu mencerminkan dirimu. Sayang, tak semuanya. Hahaha…karena aku tahu, mana yang tidak karaktermu, diantara ramalan itu. Untukku juga sama. Tak sepenuhnya benar. Dan, aku harap kamu tahu mana yang tidak benar itu.

Ya sudah, kita cuma bermain-main. Jangan diambil hati. Ini cuma catatan untuk tanggal 10.

Hei, kamu kemana hari ini? Mencari sekuntum bunga untukku? Jangan lupa, carikan aku sakura dan anggrek.

Aku tunggu.

***

Tulisan ini untuk seseorang. Maaf, kamu sumber ideku hari ini. Salam 10!

sumber : disini dan disini


Potlot Adventure » Blog Archive » Sejuk di Kebun Raya Cibodas

Posted: 09 Oct 2010 07:46 AM PDT

Kebun Raya Cibodas terletak di Kompleks Hutan Gunung Gede Pangrango, Desa Cimacan, Pacet, Cianjur, Jawa Barat, Pulau Jawa, Indonesia. Pada tanggal 11 april tahun 1852 Kebun Raya Cibodas didirikan oleh seorang kurator Kebun Raya Bogor yaitu oleh Johannes Ellias Teijsmann. Ketika itu Kebun Raya Cibodas bernama Bergtuin te Tjibodas atau Kebun Pegunungan Cibodas. Oleh Teijsmann tempat itu dimaksudkan sebagai lokasi aklimatisasi jenis-jenis tumbuhan asal luar negeri yang mempunyai nilai penting dan ekonomi yang tinggi.

Selanjutnya, tempat ini kemudian berkembang menjadi bagian dari Kebun Raya Bogor dengan nama Cabang Balai Kebun Raya Cibodas. Mulai tahun 2003 status Kebun Raya Cibodas menjadi lebih mandiri sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Cibodas di bawah Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor.

Kebun Raya Cibodas mempunyai ketinggian 1275 m dpl, kondisi alamnya berbukit-bukit, lereng gunung yang bergelombang, curah hujan 2380 mm per-tahun dan suhu udaranya antara 17 C – 27 C dengan suhu rata-rata 18C.

Tumbuhan Koleksi Kebun Raya Cibodas

Kebun Raya Cibodas mempunyai koleksi berbagai jenis pohon besar seperti tusam, tumbuhan paku pegunungan, tumbuhan runjung, hutan kaliandra, hutan alam. Koleksi yang paling khas dari Kebun Raya Cibodas adalah Taman Lumut Cibodas yang memiliki 216 jenis lumut dan lumut hati dari berbagai daerah Indonesia dan dunia. Taman Lumut ini luasnya 2.500 meter persegi. Kebun Raya Cibodas mempunyai koleksi tanaman sebanyak 10.792 jenis, 700 jenis koleksi biji, dan 4.852 koleksi herbarium. Koleksi tanaman terbagi dalam 2 (dua) koleksi yaitu koleksi di kebun dan koleksi di rumah kaca.

Koleksi tanaman di kebun berjumlah 1.014 jenis di antaranya terdapat tanaman khas seperti Kina (Cinchona pubescens) yang merupakan tanaman obat, pohon Bunya-bunya (Araucaria bidwill) yang merupakan tanaman tua dan batang pohonnya besar, Bunga Bangkai (Amorphophallus titanium) yang mempunyai bunga berukuran raksasa dan menarik serangga. Koleksi tanaman di rumah kaca terdiri dari Anggrek sebanyak 320 jenis seperti Anggrek Kasut Hijau (Paphiopedilum javanicum) adalah anggrek asli dari Jawa dan Anggrek Kiaksara (Macodes petola), Kaktus sebanyak 289 jenis seperti Kaktus Kursi Mertua (Achinocactus grussoni), sukulen sebanyak 169 jenis.

Di Kebun Raya Cibodas terdapat tanaman yang dapat dimakan, seperti biji daritanaman Saninten (Castanopsis argentea), daun Rasamala (Altingia excelsa) untuk lalapan, daun Keresmen atau Mint (Mentha arvensis) yang terasa pedas serta segar.

Terdapat tanaman herbal untuk bahan baku jamu seperti jenis Pegagan atau Antanan (Centella asiatica) sangat baik untuk perempuan yang baru melahirkan, Tempuyung (Sonchus arvenis) dapat digunakan untuk mengobati batu ginjal. Sedangkan Ki Urat (Plantago major) dapat digunakan untuk mengobati penyakit diabetes mellitus. Jika ingin melihat bunga sakura (Prunus cerocoides), pengunjung tidak perlu lagi harus ke negara Jepang, karena di Kebun Raya Cibodas terdapat TamanSakura yang isinya adalah pohon bunga sakura yang bunganya berwarna merah muda. Taman Sakura dibangun pada tahun 2006, dan luas tamannya sekitar 3.200 meter persegi.

Daya Tarik Kebun Raya Cibodas

Kebun Raya Cibodas yang terletak dikaki Gunung Gede Pangrango dengan luasnya 125 hektar adalah salah-satu obyek wisata yang sangat menarik untuk dikunjungi.

Kebun Raya Cibodas dengan udara yang sejuk dan bersih, angin sepoi-sepoi,suara kicauan burung, panoramanya yang indah dengan pepohonan serta tumbuhan nan hijau terhampar membuat hati terasa sejuk dan damai, tak berlebihan jikalau seorang ahli fisiologi tumbuhan asal Jerman yang lama bermukim di Indonesia, yang bernama Dr. F.W. Went mengatakan : If paradise still exist on earth, Cibodas must have been part of it (Seandainya masih ada sorga di muka bumi ini, maka Cibodas pastilah bagian daripadanya).

Terdapat pula air terjun, dari pintu masuk menuju ke lokasi air terjun berjarak 750 meter. Kebun Raya Cibodas bukan cuma berfungsi sebagai tempat wisata, tetapi juga sebagai tempat pendidikan dan penelitian.

Sumber: DNA Berita


Huesca, Karma Itu Ada (#15)

Posted: 09 Oct 2010 01:49 PM PDT

Ada perasaan lain ketika aku sampai di Huesca. Aku merasakan aroma cinta. Tiba-tiba saja pelukan Maria ingin ku lepas. Aku ingin menikmati kesendirian. Aku ingin terbang. Pepohonan yang rindang, taman bunga yang berisi aneka jenis bunga. Air mancur yang mengalir syahdu. Penginapan-penginapan yang eksotis.

Aku turun dari mobil. Setelah membantu Maria turun, aku hanya berdiri terpaku. Di sebelah kiriku ada danau buatan. Satu dua orang aku lihat memancing disana. Danau itu jernih sekali, lekuk-lekuk permukaan air menari seirama. Berurutan, kadang berkejaran kadang saling peluk. Kadang menghempas manja ke lekukan yang lebih kecil. Lalu lekukan-lekukan air yang lebih besar kadang meriak manja merangkulkan peluknya lalu sirna menjadi riak-riak kecil. Sinar mentari masih mendaratkan sinar lembutnya menerobos pepohonan. Memantul lewat dedaunan, membias ke permukaan danau. Bersalaman dengan riak-riak kecil tadi.

Di sebelah kananku ada taman bunga, di tengahnya ada air mancur yang tidak begitu besar. Bunga-bunga aneka warna dan jenis. Ada mawar, melati, anggrek sampai kamboja. Pohon kamboja itu seperti ratu yang dipagari oleh bidadari-bidadari keindahan. Kupu-kupu beterbangan hilik mudik. Kadang menukik. Tiupan angin tak pernah mampu mengoyak tipis sayapnya. Sayap yang terlalu genit menggelitik kelopak-kelopak bunga.

Dody bersama istrinya masih sibuk mengeluarkan barang-barang, makanan dan minuman dari mobil. Menggelar tikar di atas rumput. Aku tak sadar sejak kapan Maria ada disampingku, menumpangi khayalku. Maria memegang tanganku yang sejak tadi hanya kulipat di depan dadaku.

"pernah kemari sebelumnya sayang?" tanyaku pada Maria.

"Pernah sekali, tapi waktu remaja dulu" Maria mengecup punggung tanganku. Entah kenapa aku merasa seperti ingin sendiri dulu. Tanpa ada Maria disini. Bukannya aku mulai bosan dengannya, tapi aku ingin bercumbu dengan alam ini. Menyetubuhinya dengan kekuatan-kekuatanku hingga puncak orgasme.

Dody dan istrinya tampak telah selesai. Berdua mereka duduk di atas tikar sambil duduk berpelukan menghadap danau buatan tadi. Mesra sekali mereka. Ku dorong kursi roda Maria menuju gelaran tikar. Aku ingin menitipkannya sejenak. Aku ingin. Lalu aku menggendong Maria dan mendudukkannya di tikar. Dody yang tahu kedatangan kami langsung tahu diri dan melepas pelukannya dari bahu istrinya. Lucu dan iri juga melihat mereka. Seperti orang pacaran dan sedang kasmaran saja.

Dody mendekatiku dan mengajakku untuk mengobrol sambil berjalan, sementara istriku dan istri Dody kami tinggal.

"Dod, aku ingin memaki mu dan sekaligus memujimu"

"hehehe… silahkan, dua-duanya aku terima"

"pertama teri makasih udah bawa kami ke tempat ini, tapi sialan kamu, baru ngasih tahu aku sekarang… hahahhaha…. kalau tahu tempatnya enak gini, sering-sering aku kemari"

"apa juga aku bilang Mar, tempat ini sebenarnya punya sejarah yang kurang bagus" Ucap Dody.

"kurang bagus gimana?" aku jadi penasaran.

"kamu tahu nggak nama Huesca itu diambil dari mana?" Dody bertanya lalu kusambut dengan gelengan. Kemudian Dody meneruskan pertanyaan retorisnya.

"dulu ada sepasang kekasih tinggal disini. Si pria adalah penduduk asli desa ini dan kekasihnya yang bernama Huesca adalah turis sekaligus peneliti yang datang dari Spanyol. Huesca tertarik untuk meneliti jejak Nomensen di daerah ini. Namun percintaan mereka tak pernah mendapat restu dari orang tua si pria. Karena si pria tersebut ternyata telah dijodohkan dengan paribannya sendiri dari desa ini. Huesca sebenarnya sudah maklum dengan keadaan itu. Dia sudah banyak tahu budaya daerah Batak yang secara bersamaan dipelajarinya dengan penelitian jejak Nomensen. Namun si pria tak bisa terima. Untuk membuktikan cintanya maka dibelinyalah lahan seluas satu hektar ini dan menamainya Huesca, sesuai nama kekasihnya. Karena marah, orang tuan pria itu mengusir Huesca dari kampung itu. Penelitian serta cintanya gagal begitu saja."

"karena kecewa akhirnya pria itu berjanji untuk tidak menikah seumur hidup dan hanya merawat lahan ini sepanjang hayatnya. Lahan itu akhirnya menjadi taman secantik ini. Sekitar dua puluh tahun yang lalu dia meninggal dan mewariskan tempat ini kepada sahabatnya yang juga mengalami nasib yang hampir sama dengannya. Bedanya, sahabatnya itu menikah dengan saudara jauhnya. Namun masih satu marga. Untungnya sahabatnya itu masih bisa hidup bersama hingga kini. Malangnya ialah mereka akhirnya dipisahkan dari silsilah keluarga dan hingga kini merekalah yang merawat tempat ini"

"pantesan ya" gumamku setelah menghela nafas panjang karena cerita itu seperti dongeng saja.

"pantesan gimana?"

bersambung………..

cerita sebelumnya disini

Nb : kritik dan saran ditampung lho! :)


Tags: lingga, cerita bersambung

Tangisan sang Kenanga

Posted: 08 Oct 2010 03:34 PM PDT

class="fsize14 lh20">

1 tahun 6 bulan yang lalu

Ku edarkan pandangan mengitari sebagian komplek pesantren , dan mulai mengaguminya. Dalam batas maksimal penglihatanku, di depan rumah pengasuh, sebuah taman kecil dengan aliran air yang di buat sengkedan, menciptakan air terjun kecil-kecil yang sungguh menampakkan sejuk, di kelilingi batu-batu kali besar dan kecil agak hitam yang tertata tak begitu rapi, nampaknya memang sengaja dibuat demikian untuk memberi kesan natural. Dengan beberapa kelopak dedaunan dan bunga yang jatuh di air menjadikannya semakin terasa hidup Tak begitu jauh di sebelah kanannya,.berdiri angkuh sosok akasia yang dengan kerindangannya sedikit mengurangi terik siang itu,. Lalu berjejer rapi anggrek ungu dan mawar putih menyemarakkan suasana taman , di tambah kehadiran kenanga yang lamat-lamat ku hirup wanginya, ku biarkan aromanya mengisi ruang di paru-paruku, memberiku ketenangan.

Sejenak ku berhenti, meresapi aroma taman itu, mengulang kembali masa dimana 10 tahun yang lalu pernah ku injakkan kakiku di komplek pesantren ini juga, dan membiasakan tingkahku dengan peraturannya selama 3 tahun.

Banyak hal berubah. Taman ini dulu tak pernah ku lihat, jalan pesantren ini dulu hanyalah jalan setapak berkerikil, yang selalu becek di musim hujan. Rumah pengasuhpun hanya terbuat dari bilik bambu dengan gaya rumah panggung, yang hanya di hiasi beberapa perabotan di dalamnya. Sementara kamar-kamar santri tak jauh berbeda dengan keadaan rumah Kyai, berbilik bambu, namun setengah tinggi dindingnya menggunakan semen, dan berlantai keramik, sedikit lebih mewah dari rumah tinggal Kyai yang keseluruhannya berbahan bambu.

Kini lihatlah, rumah pengasuh telah berdiri gagah di tengah komplek pesantren. Bangunan tiga lantai yang cukup besar itu seakan menjadi panglima yang berdiri di tengah-tengah prajuritnya. Lantai pertama yang merupakan tempat tinggal keluarga Kyai, bersebelahan dengan kantor pengurus putri. Di atasnya, lantai kedua dan ketiga di fungsikan sebagai tempat tinggal para santri putri.

Sementara mengelilingi rumah pengasuh, berdiri kamar-kamar para santri putra dengan papan nama kamar di depannya, “mekkah 1,2,3”, “madinah1,2,3″, “muzdalifah”,”mina”,dst.

Ah, semua berbeda keadaannya kini. Berbeda juga kah semangat para santrinya? Atau tetap sama seperti dulu? Aku tak tahu.

Aku melangkah, lebih mendekati rumah pengasuh. Tak ku hiraukan keriuhan suara santri-santri yang tengah melantunkan nadzom alfiyah di masjid besar milik pesantren, tak jauh dari rumah pengasuh. Aku tersenyum, akhirnya aku memilih pesantren ini. Tawaran untuk berbagi ilmu di pesantren yang tak begitu besar ini datang, hanya selang dua hari setelah ku dapat tawaran yang serupa dari seorang paman di jawa timur.

Pesantren ini tak besar memang, namun dengan 500 santri putra dan 300 santri putri rasanya tidak bisa di sebut kecil juga. Letaknya yang berada di kaki gunung adalah salah satu alasanku mengapa lebih memilihnya, selain tentu saja pertimbangan lain.

8 bulan yang lalu

Tak terasa 8 bulan terlewati, ku telah masuk dalam komunitas pesantren ini, sebagai pengajar. Namun aku lebih sering di daulat untuk mengisi berbagai acara diluar sebagai qori’ah atau pelantun sholawat dengan dua santri putri yang memang memiliki suara emas.. Berkali-kali Ibu Nyai membawa kami ke luar pesantren untuk keperluan tersebut. Dan mungkin karena itulah namaku cepat meluas.

Kedekatanku dengan Ibu Nyai benar-benar ku syukuri. Aku kehilangan sosok ibu ketika aku masih begitu haus akan air susunya, beliau mengalami pendarahan berkepanjangan setelah memperjuangkan tangisan pertamaku. Dan Ibu Nyai, beliau mampu memberikan nafas seorang ibu untukku. Sementara Ayahku, setengah tahun sebelum ku menerima tawaran dari pesantren ini, beliau pergi mneyusul ibuku.

Lalu kau datang, menebarkan pesonamu, dengan ilmumu yang samudera, rautmu yang pangeran, dan laku yang selayaknya membuat kagum siapapun yang berhadapan. Kau, Wildan, anak Ibu Nyai yang baru datang dari Malaysia, mulai menempati sudut lain hatiku, yang semulanya tak pernah ku bayangkan akan ada, sebab tak pernah ada sebelumnya yang menempati sudut itu, tak satupun. Dan memang seperti itulah yang ku inginkan, ku telah menyiapkan sudut istimewa itu hanya untuk pendampingku kelak, pendamping yang telah terpilih dalam tulisan-Nya.

Sebesar kekuatan yang ku miliki, ku coba membuang angan yang tak seharusnya, menepikan rasa yang tak selayaknya. Hingga akhirnya, kau menawarkan hatimu untuk menempati sudut itu, mengizinkanku memimpikanmu, bahkan bukan sekedar mimpi belaka. Kau suguhkan keyakinan itu dengan restu kedua orang tuamu, yang juga telah ku anggap kedua orang tuaku sendiri.

Tak pantaskah bila kemudian ku teramat bahagia? Selayak kebahagiaan laila ketika bertemu dengan qaisnya, seperti syurganya Juliet saat Romeo berjanji untuknya. Anganku bahkan lebih dari itu saat kedua orang tuamu langsung setuju ketika kau menyebut namaku. Aku merasa seperti Fathimah yang mendapatkan Ali.

Dan tangis syukurku hanya Tuhan yang tahu

5 bulan yang lalu

Banyak kejadian yang terkadang kita tak pernah bayangkan sebelumnya, dan bagaimanapun itu, kita harus siap menghadapinya.

Tiga minggu sebelum hari pernikahan kita. Mendadak nenekmu harus meninggalkan pesantrennya, Dengue Haemorrhagic Fever yang menyerang tiba-tiba membuatnya terpaksa menjalani rawat inap di rumah sakit. Dan semua perhatianpun beralih pada kesehatannya, semua turut sibuk berdo’a untuknya. Penghuni dua pesantren bermunajat untuk sang ibu ratu, pesantren ayahmu, dan pesantren kakekmu.

Seminggu, kadar trombositnya tak juga meningkat, bahkan lebih sering turun drastis. Darah yang terus keluar dari hidung dan mulutnya menyebabkan beliau harus terus di infus, padahal persediaan darah bergolongan AB sedikit sulit di dapatkan. Dan, setelah dua minggu nenekmu terbaring di rumah sakit, setelah dua minggu beliau berusaha melawan penyakitnya, mengalahkan virus-virus dengue yang terus menyerangnya, ternyata, Tuhan tak menghendaki kemenangan untuknya, mungkin kemenangan itu telah Dia persiapkan untuk beliau di tempat lain yang tak terjamah oleh virus-virus, tempat dimana hanya ada keabadian.

Akhirnya, rencana pernikahan kita yang hanya berselang satu minggu dari kejadian itupun terpaksa di batalkan. Aku tak menangis untuk itu, sungguh.Walau undangan telah di persiapkan, sudah tertulis lengkap dengan nama kedua mempelai, tempat dan waktu pernikahan, aku mengerti. Kakakku, yang akan menjadi waliku, keluarga besarku, tak ada yang mempermasalahkan penundaan ini, karena memang musibah itu cukup kuat untuk di terima sebagai alasan.

2 bulan yang lalu

Aku tak mengerti, mengapa tuhan menuliskan kisah ini? Apakah Dia ingin tahu bagaimana besarnya kecintaanku padaNya? Ataukah Dia menguji ketulusanku atas keputusan-keputusan yang Dia ambil tanpa menunggu persetujuanku lebih dulu? Atau, Dia ingin sekali lagi menunjukkan bahwa hanya Dia yang bisa mengatur alur cerita kita?. Aku tahu Dia ada, aku yakin Dia mendengarku, dan ku yakin juga inilah skenarioNya, hingga ku tak memiliki kekuatan untuk memprotesNya.

Sudut istimewa itu bukan untukmu, bukan!!

Seminggu yang lalu orang tuamu mendekatiku, mengatakan pelan-pelan padaku, sangat pelan hingga ku merasakannya sebagai bisikan. Namun, efeknya sungguh luar biasa bagiku, begitu luar biasa hingga saat ibumu memelukku, ku hanya mematung, tak bergerak, tak bersuara.

Pernikahan kita di batalkan, benar-benar di batalkan. Demi kakekmu. Dan kaupun terdiam saat itu, tentu saja ku tau kau takkan bisa membantah, seperti juga aku.

Kakekmu, yang di tinggalkan istrinya sejak 3 bulan lalu, berencana untuk menikah lagi, demi kelangsungan pesantrennya yang kini kehilangan sosok ibu Nyai. Beliau hanya memiliki satu putrii, ibumu, dan telah menikah. Semula beliau berharap menantunya bersedia tinggal bersamanya untuk turut mengelola pesantren miliknya, namun ternyata, menantunyapun memiliki tanggung jawab untuk meneruskan warisan ayahnya yang juga berupa sebuah pesantren.

Tak ada yang salah dengan itu, tak ada yang menentang keinginannya, demi sebuah kemaslahatan. Semua menyetujuinya, tak terkecuali dirimu. Namun, ketika beliau sebutkan siapa yang beliu pilih untuk menjadi pengganti istrinya, tak satupun mampu menyembunyikan rasa terkejut.

Tuhan…mengapa harus aku yang dia pilih? Atau diakah pilihanMu untukku? diakah yang Engkau tuliskan dalam skenarioMu untuk menempati sudut istimewa dalam hatiku itu? Tak adakah yang lain?.

tangisku hanya Tuhan yang tau.

1 bulan yang lalu

Kembali ku berdiri mematung di depan taman pesantren, meresapi wangi kenanga yang 1,5 tahun lalu mengantar bahagiaku, saat datang untuk memenuhi janjiku atas tawaran pesantren ini. Aromanya sungguh menenangkan, membuatku sejenak melupakan masa-masa yang seharusnya telah dapat ku tepis jauh. Tapi, melupakan ternyata tak semudah membuang daun-daun yang berserakan.

“assalamu’alaikum Fa” kau menyapaku

“wa’alaikumsalam warahmatullah” aku menjawab dengan perih yang masih tersisa.

Saat kau melewatiku, berjalan menuju masjid untuk mengisi pengajian hari ini, perih itu semakin nyata, merusak suasana hatiku yang semenit lalu dalam ketenangan. Sisa-sisa hatimu masih tertinggal didalamnya, dan ku yakin hatimupun masih menyimpan namaku. Suaramu yang bergetar saat menyapaku, tatapanmu yang terkadang ku dapati tengah mencuri, adalah buktinya. Namun kita berusaha menutupnya rapat.

Jawaban telah ku ambil ketika ku tak dapat memilih, tak ada pilihan bagiku. Mereka tak memberiku pilihan, atau tepatnya membuatku tak memiliki pilihan. Dia, kakekmu, adalah orang yang begitu di hormati, juga ayah dari ibumu. Sudah pasti ibumu tak ingin jika kau menikahiku sementara ayahnya menginginkan aku untuk menjadi istrinya. Sedangkan kau? Cintamu padaku tak cukup kuat untuk membantah semuanya, aku tahu, dan aku sakit karena itu.

” mungkin saja aku menikahimu, tapi itu akan membuat Abah dan Ummi merasa tak menghormati kakek” katamu ketika itu, ketika ku tanyakan mengapa kau hanya diam.

” tapi tidakkah kau pertimbangkan bagaimana perasaanku?” suaraku mulai melemah, dan sedapat mungkin ku tahan air mata yang hampir saja mengalahkan kekuatanku.

“maafkan aku, aku sangat menghormati mereka”

“aku tak mau Abah dan Ummi menahan kecewa jika aku bersikeras menikahimu” lanjutmu.

“kau boleh menolak keinginan mereka , menolak lamaran kakekku, jika kau tak menginginkan itu.”. ah, andai saja kau tahu bahwa keluargaku sangat menghormati kalian, terutama kakakku yang pernah menjadi penghuni pesantren kakekmu, maka kau akan tahu bahwa sulit bagi mereka menolaknya.

“seandainya aku …..”

“sudahlah Fa, mungkin memang Tuhan tak mengizinkanku memilikimu” kau memotong kalimatku, lalu segera beranjak pergi dengan luka yang kau sembunyikan.

Tak dapat lagi ku lawan keinginan air mata untuk segera menampakkan keberadaannya, mereka jatuh dalam isakku, perlahan dan terus perlahan membasahi hatiku yang kering.

“seandainya aku juliet, mungkin aku akan melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan ketika cintanya tak dapat dia miliki”. Kau tak pernah mendengar kalimat itu, dan tak akan pernah.

Ya, akhirnya dengan hati yang begitu luka, dan hanya karena rasa hormatku pada kalian, aku menerima lamaran itu. Pernikahan yang akan terlaksana, ternyata bukanlah pernikahan antara kau dan aku, dan aku tak pernah ingin hari itu datang.

Hari ini

Aku berdiri di tepi taman, meresapi wangi kenanga yang ku tau pasti akan menghadirkan ketenangan walau sejenak. Kenanga, saksi dari semua perjalanan ini, dia yang menemaniku saat bahagia merasuk, dia juga menghiburku saat duka menghadang.

Berjalan pelan, ku arahkan langkahku menuju sebuah bangku kecil dan duduk di atasnya, menyaksikan seorang bocah kecil yang tengah memetik kenanga, di temani Ayah dan ibunya.

Ada senyum disana, senyum ceria sang anak ketika menyerahkan setangkai kenanga untuk ibunya. Ada senyum sang ibu ketika mencium pipi anaknya, juga senyum sang Ayah ketika membelai rambut  buah hati mereka.

Tapi tidak di sini. Aku tak dapat tersenyum menyaksikan kebahagiaan itu. Senyumku telah hilang entah kemana, di telan luka yang begitu perih. Senyumku telah ku tukar dengan rasa hormat yang begitu besar. Senyumku telah kubunuh dalam diam. Yang tersisa kini hanya tangis…

Aku melangkah lagi, meninggalkan keceriaan keluarga itu, meninggalkan kenanga yang wanginya tak lagi mampu menenangkanku. Esok segalanya akan berubah, aku yakin.


Tags: Admin Kompasiana, Bernandang delta bvlgari, EmThree, mukti ali, mimin mumet, Bisyri

Istighosah 7 Hari Pasca Tabrakan Maut Kereta Api di Petarukan

Posted: 08 Oct 2010 02:04 PM PDT

Bertempat di lapangan Stasiun Kereta Api Petarukan (Jum'at, 8/10/2010) PT. Kereta Api Indonesia DAOPS IV Semarang menyelenggarakan Istighosah doa bersama 7 hari pasca musibah tabrakan maut KA Senja Utama Vs Argo Bromo Anggrek yang menewaskan 34 orang minggu lalu (01/10/2010).
Menurut salah seorang sumber, kegiatan ini dimaksudkan untuk memohon keselamatan dan mendoakan bagi korban yang tewas dalam tragedi maut tersebut.
Rangkaian prosesi istighosah terbagi menjadi dua sesi acara, yang pertama acara doa bersama lingkup jajaran DAOPS IV Semarang yang dimulai sehabis sholat Jum'at, kemudian pada pk. 17.00 WIB dilanjutkan doa bersama warga masyarakat dan pemberian santunan kepada anak yatim piatu dihadiri oleh tokoh agama, tokoh masyarakat, unsur muspika serta muspida kabupaten Pemalang yang berakhir dengan sholat Maghrib bersama.
Sejak pk.14.00 WIB masyarakat berdatangan menuju lokasi karena terdengar kabar komedian Tukul Arwana akan menghadiri acara tersebut, hal ini dikaitkan dengan salah seorang keponakan Tukul yang menjadi korban dalam peristiwa maut itu. Entah siapa yang pertama kali menghembuskan berita tersebut sehingga menjadi bahan obrolan yang meluas di masyarakat. Duka yang mendalam para keluarga korban yang meninggal maupun yang luka berat menoreh cerita yang menyayat hati dan merupakan lembaran hitam moda transportasi darat terutama bagi jajaran perkereta-apian Indonesia.
Menurut panitia dari PT. KAI acara ini sebagai bentuk kepedulian sosial dan rasa empati yang mendalam bagi keluarga yang terkena musibah dan berharap semoga arwah yang meninggal dunia mendapat tempat yang layak, diampuni segala dosanya sesuai amal ibadah semasa di dunia dan bagi keluarga yang ditinggalkan agar tabah menerima cobaan ini.
Menurut warga istighosah kali ini yang terbesar mungkin karena menelan jumlah korban banyak dan menjadi berita nasional sehingga PT KAI menggelar acara ini, karena sebelumnya juga pernah terjadi kurang lebih 6 bulan yang lalu saat terjadi kecelakaan warga kauman Petarukan tewas saat melintas rel kereta api. Atas inisiatif keluarga korban dan warga sekitar digelar acar istighosah di stasiun , ternyata acara serupa berulang lagi.
Bahkan sebagian warga pun menuturkan bahwa sebelum kejadian banyak peristiwa aneh seperti mimpi melihat mayat berserakan, anehnya mimpi seperti itu terjadi pada banyak warga disekitar pemukiman dekat stasiun.
"Setiap warga mimpinya hampir sama semua, yakni melihat banyak mayat berjejer dan orang-orang yang sedang berjualan bunga di pelataran stasiun ini," kata Windol berkisah.
Lanjut Windol (44) berkisah sebelumnya tidak pernah terjadi mimpi massal seperti itu. Baru kali ini mengalami hal aneh yang dirasakan oleh banyak warga. Bahkan tadinya, warga menganggap mimpi itu hanya sebagai kembang tidur saja. Namun setelah melihat kejadian tragis ini, sejenak berfikir, mungkin warga sudah diingatkan lebih dulu.
"Memang mimpi ini tampak aneh, dan sulit dipercaya. Mungkin sebagai pengingat saja, supaya warga sekitar lebih berhati-hati," paparnya.
Windol (44) bapak 6 putra yang tinggal dibelakang stasiun kereta api merasakan
ikut sedih dengan malapetaka ini. Ia pun mengucapkan turut bela sungkawa kepada keluarga korban. Meski tidak bertemu langsung dengan keluarga korban, minimal dalam hatinya selalu mendoakan arwah penumpang tersebut. Apakah ini firasat atau factor kebetulan belaka, yang jelas kecelakaan maut KA Senja Utama Vs Argo Bromo Anggrek itu benar-benar telah terjadi melengkapi daftar panjang kecelakaan kereta api di Indonesia.(USR)***

Tags: catatan, Kereta api, musibah, petarukan, urip

KREATIF: <b>Anggrek</b> Terbaik di Dunia Itu Hilang

Posted: 08 Oct 2010 03:40 AM PDT

BANJARMASIN, TRIBUN — Anggrek terbaik di dunia jenis anggrek bulan lokal (Phalaenopsis amabilis) dari Kabupaten Tanah Laut kini tidak bisa ditemukan lagi di hutan Kabupaten Tanah Laut ataupun di kawasan hutan Kalimantan Selatan lainnya.
     
Ketua Persatuan Anggrek Indonesia (PAI) Kalimantan Selatan Aida Muslimah di Banjarmasin, Sabtu (4/9/2010), mengatakan, anggrek lokal Phalaenopsis amabilis di dunia ini hanya ada di tiga tempat, yaitu dua tempat di Indonesia, di Bogor dan Pelaihari, ibu kota Kabupaten Tanah Laut; dan di Filipina.
     
Dari tiga tempat tersebut, kata Aida, yang hadir dalam acara buka bersama komunitas jurnalis "Pena Hijau" Kalsel, anggrek bulan Pelaihari yang paling bagus dijadikan sebagai inti silang. Hal ini disebabkan ada beberapa kelebihan yang tidak terdapat pada anggrek jenis lainnya di daerah lain.
     
Beberapa kelebihan tersebut, kata Aida, yang didampingi Sekretaris PAI Yulianto, antara lain, anggrek bulan Pelaihari memiliki masa bunga cukup lama antara tiga dan enam bulan, sedangkan anggrek biasa tidak lebih dari satu bulan.
     
Selain itu, katanya, jumlah kuntum dalam satu tangkai bisa mencapai 25-50 buah, sedangkan anggrek biasa hanya 10-15 kuntum, dan banyak cabang dalam tangkai, sedangkan anggrek lainnya hanya satu cabang.
     
Anggrek bulan Pelaihari ini juga merupakan salah satu jenis anggrek yang memiliki bunga yang sangat indah berwarna putih bersih sehingga harganya pun cukup mahal, bisa mencapai Rp 5 juta untuk satu pohon.
     
Sayangnya, kata Yulianto, jenis bunga yang dinobatkan sebagai bunga terbaik dunia di jenisnya tersebut kini tidak ditemukan lagi di habitatnya karena kesalahan kebijakan pemerintah pada masa lalu.
     
"Dulu anggrek merupakan tanaman hasil komoditas yang bisa diperjualbelikan sehingga pada saat itu penjualan anggrek Pelaihari ke beberapa negara cukup marak, hingga akhirnya anggrek kebanggaan tersebut sulit ditemukan, bahkan tidak ada lagi di hutan Pelaihari," katanya.

sumber :http://www.tribunpontianak.co.id/read/artikel/16132/anggrek-terbaik-di-dunia-itu-hilang

Unik Boss: Jenis <b>Anggrek</b> Terkecil di Dunia

Posted: 30 Nov 2009 12:00 AM PST

Ahli botani di Ekuador mendapat penghormatan karena menemukan anggrek terkecil di dunia dengan lebar hanya 2.1mm dan kelopak yang transparan hanya satu sel tebal. Tanaman itu berasal dari Platystele genus yang membentuk sebagian besar miniatur tanaman.
Ilmuwan Amerika Jost Lou menemukan bunga kecil itu secara kebetulan di antara akar tanaman yang lebih besar dan ia kumpulkan dari Cerro Candelaria di timur Andes.
“Aku melihat di antara akar ada tanaman kecil yang aku sadar lebih menarik daripada anggrek yang lebih besar,” katanya.
Itu adalah 60 anggrek baru yang telah ditemukan dalam sepuluh tahun terakhir. Dr Jost bekerja untuk EcoMinga Foundation Ekuador.
Lebih dari 1.000 spesies anggrek telah diekplorasi di negara Amerika Selatan dalam 100 tahun terakhir sebagai jalan baru membuka daerah-daerah terpencil.
Dr Jost menemukan kelompok paling menarik dari 28 jenis anggrek dari genus teagueia di daerah pegunungan dekat Banos, Ekuador.
Kelompok itu sebelumnya diperkirakan hanya memiliki enam spesies.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar