Title: Euthanasia
Casts: Lee Taemin, OC (Jung Minsung), others
Author: Cynthia aka Han Ha Joon
Rating: PG-15
Genre: Paramedic (???), Romance, failed Angst._.
Length: Oneshoot~
Disclaimer: Only own the plot. Kwon Minjung is only a fictional.
Forewords: Euthanasia adalah praktek pencabutan kehidupan manusia atau hewan melalui cara yang dianggap tidak menimbulkan rasa sakit atau menimbulkan rasa sakit yang minimal, biasanya dilakukan dengan cara memberikan suntikan yang mematikan. (taken from Wikipedia ;])
A/N: Maaf kependekan karena sedang sibuk ujian -.-” m(_ _)m
—-
"Lakukan saja euthanasia pasif."
—-

*piku seadanya XD*
Aku mendesah pelan sambil memandang ke luar jendela. Sudah setahun lebih aku menunggunya tertawa, berceloteh, menari dan bernyanyi. Tapi ia tidak pernah membuka matanya lagi sejak kecelakaan setahun yang lalu, kecelakaan yang membuatnya koma selama setahun ini.
Alat pendeteksi detak jantung itu masih menyala, grafiknya menunjukkan detak jantungnya yang berdetak lemah. Aku mendesah lagi, lalu menatap yeojachingu-ku yang terbaring itu nanar. Ia tak pantas mendapatkan ini…
"Taemin."
Aku menoleh, lalu tersenyum seadanya ketika aku melihat teman-temanku yang datang menjenguk Minjung.
"Kenapa? Sepertinya lesu sekali," tanya Minho padaku.
"Dua hari lagi ulang tahunmu dan setahun yang lalu kita merayakannya bersama…"
"Sudahlah, tak perlu dibahas lagi. Lagian aku sama yang lainnya bakal ngerayain di sini, kok," katanya sambil tersenyum.
"Ini, aku letakkan di sini ya," kata Minho lagi, lalu meletakkan bunga anggrek putih (ehm… emang ada ya? -_-a *author ngarang*) di meja dekat tempat tidur Minjung.
"Makasih. Dia memang suka anggrek putih," tambahku. Minho tertawa.
"Bagaimana kata dokter? Apa mereka sudah mengatakan sesuatu?" tanya Jonghyun sambil mengambil sebutir apel dan memakannya. Aku menggeleng.
"Sabarlah," ucap Minho sambil menepuk pundakku.
"Aku tau," kataku sambil tersenyum, berusaha bersikap seperti biasa. Jonghyun menatapku tajam. "Jangan bersikap seperti itu. Jangan suka bohong."
Aku tertawa, "Kau selalu tau, ya."
Jonghyun mencibirku, lalu berdiri dan menatap ke arah jendela.
"Wah, sudah sore. Aku harus pulang, ada janji dengan Kibum main futsal. Minho, ayo!" seru Jonghyun pada Minho.
"Kami duluan, ya. Minjung, kami duluan, ya. Cepat sadar," kata Minho lalu pergi keluar bersama Jonghyun, meninggalkanku sendirian.
"Haha, sudah lama tak main futsal sama mereka. Ini semua gara-gara kau," kataku lalu tertawa kecil sambil menunjuk ke arah Minjung, tapi dia tetap tak bergeming.
"Kwon Minjung, sadarlah…"
—-
Ini hari ulang tahun Minho dan kami merayakannya cukup meriah di kamar Minjung. Kami sempat menyanyikan lagu ulang tahun padanya, walau tanpa Minjung. Ia masih tetap terlelap seperti putri tidur, dan sesekali aku melihat ke arahnya. Jinki menatapku sambil tersenyum simpul, lalu menepuk pundakku.
"Sudahlah, aku tau dia pasti juga sedang ikut tersenyum bersama kita," kata Jinki berusaha menghiburku. Aku hanya menjawabnya dengan senyuman.
"I hope so," kataku.
"Ya, jangan lemah begitu!" seru Jonghyun kesal, "Berdoalah untuk Minjung! Kalau kau benar menyayanginya, berdoalah untuknya! Bersemangatlah seakan Minjung akan sadar besok! Kau ini namjachingu yang payah!"
"Jonghyun, diamlah!" sahut Kibum, merasa Jonghyun sudah berbicara terlalu banyak. Aku menggelengkan kepala.
"Sudahlah Kibum, lagian Jonghyun benar," ucapku.
"Tuh kan, dia lemah lagi…" ledek Jonghyun.
"Ah, ya, ya! Aku akan bersemangat!" seruku tak terima. Minho tertawa.
"Sudahlah, yang penting sekarang… Ayo kita makan kuenya~!" kata Minho lalu mulai memotong kuenya menjadi lima bagian. Untukku, Jonghyun, Jinki, Kibum dan untuknya sendiri. Kami makan dengan senang, sesekali mencolek krim kue ke pipi Minho yang sedang berulang tahun. Kecuali Jinki, ia tidak terlihat sangat senang, dan sesekali melirik ke arah Minjung yang terbaring.
"Jinki, kau kenapa?" tanyaku penasaran.
"Ng—nggak," jawab Jinki sedikit gugup.
"Katakan saja," ucapku.
"Jangan dikatakan," kata Kibum menghalangi Jinki untuk bicara, lalu menatapnya tajam. Hei, ada apa ini?
"Hei, kalian ini kenapa?" tanyaku semakin penasaran.
"Jinki sih, nggak bisa nyembunyiin rahasia!" tuduh Minho kesal.
"Ada apa, sih?" tanyaku lagi. Jinki menatapku, lalu menghela nafas.
"Jadi sebenarnya, ada cara untuk mengakhiri ini semua…"
"Mengakhiri apa?"
"Penderitaan Minjung."
Aku tertegun. Suasana mulai hening.
"Penderitaan?"
"Iya, dia sudah koma sejak setahun yang lalu, dan aku sangat kasihan melihatnya terus-terusan berbaring seperti itu, jadi… Yah, ini hanya teori saja, sih."
"Apa, sih? Aku nggak mengerti apa yang kau bicarakan," ucapku bingung.
"Intinya… Menghilangkan penderitaan Minjung dan… semuanya."
Aku menatapnya tajam, "Maksudmu… mengakhiri hidupnya?"
Jinki mengangguk pelan. Aku menatapnya emosi.
"Kau ingin membunuh Minjung, hah!?" seruku lalu bangkit dari tempat dudukku, tapi dengan sigap Jonghyun mencegahku.
"Dengar dulu!!" bentak Jonghyun padaku. Aku lalu duduk kembali.
"Ada satu cara… Untuk mengakhiri hidup pasien yang sudah tidak ada harapan. Kalau diobati percuma, maka dokter hanya membiarkannya tanpa memberi obat. Ini namanya euthanasia pasif," jelas Jinki padaku. Aku tertegun.
"Membunuh pelan-pelan, ya?" tanyaku dengan suara mengecil.
"Yah kalau dibilang membunuh juga bukan, sih…" kata Jinki lalu menggaruk kepalanya, "Lagipula… Kita tak berhak memaksa Minjung untuk tetap hidup, kan?"
Aku terdiam.
"Jadi…"
"Lakukan saja euthanasia pasif."
Aku menatap ke arah Minjung yang terbaring, tak tega. Apa mungkin Jinki benar? Apakah aku harus meminta dokter melakukan euthanasia pasif?
Aku hanya diam sepanjang pesta berlangsung, memikirkan tentang euthanasia pasif. Haruskah kulakukan pada Minjung?
—-
Dokter itu menatapku tak percaya. Aku hanya menggigit bibir bawahku seusai aku berkata bahwa aku ingin euthanasia pasif pada Minjung.
"Kau benar-benar ingin melakukannya?" tanya dokter bermarga Park itu padaku. Aku mengangguk mantap. Dokter itu menghela nafas.
"Aku sudah yakin dan lagipula aku tidak ingin melihatnya menderita," ucapku, "Anggap saja sebagai… Pembunuhan berdasar belas kasihan?"
Dokter itu menatapku, "Ini bukan main-main. Ini nyawa, Nak."
"Aku tidak main-main, aku serius. Aku… Aku ingin semuanya berakhir. Penderitaannya."
"Baiklah kalau itu maumu," kata dokter Park, "Kita lakukan mulai besok."
Aku tersenyum hampa. Entah kenapa hatiku menjadi seperti ini. Ada rasa yang aneh berkelebat dalam hatiku.
Apa aku sudah melakukan sesuatu yang benar?
—-
Sudah empat hari dokter tidak menyuntikkan obatnya pada Minjung lagi. Aku hanya bisa menatap Minjung nanar, dan menggenggam tangannya setiap hari. Aku tau Minjung pasti marah padaku karena aku 'membunuhnya'.
Maafkan aku Minjung, tapi aku benar-benar tidak tega melihatmu terus-terusan seperti ini…
—-
Hujan mengiringi pemakaman hari ini. Aku menatap makam di depanku dengan pandangan hampa sambil memegangi payungku erat. Jinki merangkul pundakku.
"Maaf," ucapnya pelan. Aku hanya bisa tersenyum lirih walaupun aku tau air mataku mulai menetes.
"Tidak, terima kasih. Mungkin memang harusnya seperti ini," ucapku padanya. Jinki hanya menatapku sedih.
"Harusnya aku memang tidak mengusulkan…"
"Sudahlah! Tidak usah diungkit lagi. Percuma aku ataupun kau ataupun yang lain menyesalinya sekarang. Ini mungkin memang jalan hidupnya…"
Jonghyun yang mendengar kami berbicara sedari tadi tiba-tiba memelukku erat, disusul dengan Minho, Kibum dan Jinki.
"Taemin…" panggilnya lirih, "Kau anak yang kuat, kan?"
Aku mengangguk dan memejamkan mataku. Aku menengadahkan kepalaku, merasakan air hujan jatuh di atas mukaku, menyapu mataku, hidungku dan bibirku.
"Ya, aku anak yang kuat…"
Mereka kemudian melepaskan pelukannya.
"Baiklah, kita mulai hidup baru, oke?" kata Minho sambil tersenyum. Aku mengusap air mataku.
"Tentu saja!!" kataku bersemangat, membuat yang lain tertawa.
Minjung, maafkan aku, ya. Ini mungkin caraku untuk membuatmu tertawa dan tidak menderita, walaupun di alam yang berbeda denganku…
END